Selasa pagi sekitar pukul 6 dini hari, disebuah desa yang terletak di kecamatan Mangkutana, aku melihat sekelompok anak sekolah sedang duduk-duduk di tepian aspal jalan raya desa, sepertinya mereka sedang menunggu bus sekolah yang setiap pagi datang mengantar mereka berangkat ke sekolah, terlihat anak berseragam SMA dan lebih banyak yang berseragam SMP, maklum didesa ini belum ada SMP apalagi SMA, untuk mencapai SMP dan SMA terdekat kita harus menempuh jarak sekitar 15 Km atau diperlukan waktu kurang lebih 30 menit untuk sampai disekolah.
![]() |
| Menunggu Bus Sekolah |
Tak lama berselang bus yang ditunggu-tungu itupun datang dan berhenti dikerumunan anak-anak, terlihat bus sudah penuh, banyak siswa yang berdiri didalam bus, sementara diluar anak-anak yang menunggu dipinggir jalan tadi berebut untuk masuk kedalam bus, hanya beberapa orang saja dari mereka yang bisa masuk kedalam bus, sementara ada 3 anak laki-laki yang memberanikan diri untuk berdiri menggantung di pintu bus tanpa memperdulikan keselamatan dirinya yang ada dipikirannya pagi itu hanya bagaimana mareka bisa pergi kesekolah.
![]() |
| Over Capacity |
Tapi diluar masih banyak anak-anak yang tidak bisa masuk kedalam bus, dengan kepala tertunduk anak-anak itu kembali kerumah mereka masing-masing, bagi mereka yang memiliki kendaraan pribadi seperti motor, tak jadi masalah, mereka dapat pergi dengan menggunakan motor, atau yang orangtuanya mampu membayarkan sewa ojek, mereka masih dapat pergi kesekolah pagi itu. Tapi bagaimana dengan orangtua yang tidak memiliki motor, atau orangtua yang tak memiliki persediaan uang untuk membayar sewa ojek, mau tidak mau mereka harus mengurungkan niat mereka untuk pergi kesekolah pagi itu.
![]() |
| Pulang lagi, busnya tidak muat, hari ini libur lagi |
Menurut keterangan dari salah satu orangtua siswa yang sempat saya temui, ongkos ojek untuk bisa sampai kesekolah yang jaraknya sekitar 15 Km adalah Rp 7000, tak terbayang apabila orangtua siswa harus menanggung biaya transportasi yang cukup mahal itu setiap hari. Dengan adanya bus sekolah yang difasilitasi dari pemerintah kabupaten luwu timur, maka beban dari orangtua siswa dapat teratasi, namun selama beroperasi bus sekolah hanya memprioritaskan siswa-siswi SMA, entah bus tersebut dikhususkan bagi siswa SMA atau bukan, tapi pada kenyataannya banyak siswa SMP yang tidak bisa ikut bus sekolah.
Menurut keterangan dari salah satu guru di SD, di desa ini terdapat 4 sekolah dasar yang mana satu sekolah adalah sekolah induk dan tiga lainnya adalah kelas jauh yang mana rata-rata alumni pertahun dari keempat SD tersebut sekitar 70-80 siswa pertahun, dengan banyaknya jumlah lulusan SD tiap tahunnya dan juga faktor jarak desa ini dengan SMP yang cukup jauh serta medan yang harus ditempuh cukup berat dengan jalan yang berliku diantara hutan cagar alam dan perkebunan kelapa sawit, menjadikan desa ini butuh satu unit SMP. Infrastruktur jalan sepanjang desa ini cukup baik namun infrastruktur listrik belum dirasakan desa ini sampai sekarang. Demikian sedikit cerita dari salah satu desa di Kabupaten Luwu Timur, Kabupaten yang terkenal sebagai daerah penghasil Nikel terbesar di Indonesia.





