![]() |
| Ladang Padi di Lembah Mamasa |
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami tiba di provinsi termuda di Indonesia ini. di pusat kota saya dan teman-teman satu tim akhirnya berpencar, dari kota saya harus menempuh jarak kurang lebih 40KM lagi untuk sampai di desa tempatku meneliti, setelah 3 jam perjalanan menggunakan mobil dan disambung dengan ojek akhirnya saya sampai di desa Sibanawa Kec. Sumarorong , setibanya disana saya disambut dengan ramah oleh penduduk setempat, bahkan Pak Kepala desanya pun ikut menemuiku, maklum saja mobil yang saya tumpangi berhenti di acara pernikahan salah satu warga dan kebetulan disana ada Pak kepala desa,
Sedikit fakta mengenai masyarakat di Mamasa, mayoritas penduduknya beragama nasrani dan disetiap rumah rata-rata mereka memelihara babi, kalau di Jawa seperti ayam, apabila tiba pesta, baik itu pesta adat, pernikahan ataupun kematian, setiap perwakilan keluarga membawa babi sebagai wujud bantuan, seperti gambar berikut ini, seorang pria memikul babi di pasar.
Tak terasa sudah satu malam saya lalui di desa yang super dingin ini, aku menginap di salah satu rumah tokoh masyarakat disana namanya Pak Upa' sedikit tentang pak Upa' ia memiliki adik yang pernah dikirim sebagai salah satu personel tentara dalam Pasukan Perdamaian Indonesia ke Lebanon pada saat konflik di timur tengah berkecamuk pada tahun 2009 lalu.
Sedikit fakta mengenai masyarakat di Mamasa, mayoritas penduduknya beragama nasrani dan disetiap rumah rata-rata mereka memelihara babi, kalau di Jawa seperti ayam, apabila tiba pesta, baik itu pesta adat, pernikahan ataupun kematian, setiap perwakilan keluarga membawa babi sebagai wujud bantuan, seperti gambar berikut ini, seorang pria memikul babi di pasar.
Tak terasa sudah satu malam saya lalui di desa yang super dingin ini, aku menginap di salah satu rumah tokoh masyarakat disana namanya Pak Upa' sedikit tentang pak Upa' ia memiliki adik yang pernah dikirim sebagai salah satu personel tentara dalam Pasukan Perdamaian Indonesia ke Lebanon pada saat konflik di timur tengah berkecamuk pada tahun 2009 lalu.
Suasana pagi di desa ini, disaat saya terbangun di suatu pagi kurasakan embun bak butiran debu berkilau yang menerpa wajahku, matahari bersembunyi ditebalnya kabut pagi, nampak bayangan rimbun pohon pinus berbaris menuruni bukit, udara dingin ini seakan masuk menembus kedalam hangatnya hati, beberapa pasang mata dengan tatapan penasarannya menatapku sambil terdiam, tak lama aku dikejutkan dengan sepasang elang berkepala putih yang tak malu-malu melintas dihadapanku, berputar-putar seakan ingin mengajakku terbang, Subhanallah.. sungguh pesona alam yang sangat indah. Sekian dulu pengalamanku dari Kab. Mamasa Sulawesi Barat. Ditulis di Sumarorong, 8 Juni 2011

